COASTAL ACTIVITIES

 

 

News...!!!

Direktur RASI Budiono menang Whitley Award 2012

Sangkuliman menjadi tujuan desa wisata untuk Pesut Mahakam

RASI menangVan Bree VTS Award dari almarhum Dr PJH Van Bree

Pengalaman relawan dari Jacquelin alias  'Joko' di desa Sangkuliman

Tur wisata Pesut Mahakam

 

 

 Indentifikasi Daerah Keanekaragaman Cetacea tinggi di Kutai Timur, Kalimantan Timur

Serangkaian enam survei pemantauan Cetacea dilakukan di perairan pesisir Bontang dan  Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, Indonesia, antara tahun 2009 dan 2012 meliputi  transek sepanjang 3433 km. Survei ini dilakukan dalam menanggapi fakta bahwa penelitian   Cetacea di Indonesia digambarkan sebagai proyek prioritas dalam "IUCN 2002-2010 Konservasi  Rencana Aksi Cetacea Dunia" dan target Departemen Perikanan Nasional untuk memperluas  Kawasan Konservasi Laut (KKL) di Indonesia dengan dua juta hektar antara tahun 2010 dan  2014

Sembilan puluh delapan penemuan kelompok Cetacea dengan identifikasi spesies positif terbuat dari empat belas jenis Cetacea yang termasuk lumba-lumba jenis Stenella longirostris, Stenella l. roseiventris, Stenella attenuata, Stenella coeruleoalba, Tursiops aduncus, Tursiops truncatus, Grampus griseus, Orcaella brevirostris, dua spesies paus kecil Peponocephala electra, Feresa attenuata, serta paus menengah Crassidens Pseudorca dan Cavirostris Ziphius dan paus besar spesies Physeter macrocephalus dan Physalus Balaenoptera. Spesies yang terakhir telah menjadi sangat langka di belahan bumi selatan dan terancam punah tetapi menurut warga setempat setiap hari terjadi penampakan dari November sampai Mei di pesisir wilayah Kutai Timur dan kabupaten Bontang,hal tersebut menunjukkan pentingnya daerah ini. Selain Cetacean juga ditemukan penemuan tambahan duyung (Dugong dugon) dan paus hiu (Rhincodon typhus). 

 

Ancaman termasukpenurunan sumber daya ikan karena kerusakan terumbu melalui pemboman dan memancing dengan senyawa beracun serta perburuan lumba-lumba oleh nelayan non-penduduk untuk minyak dan umpan hiu.  Pembunuhan paus  bungkuk remaja, Megaptera novaeangliae terjadi pada Agustus 2010 di Bontang. Karena isolasi daerah di mana sebagian besar paus dan lumba-lumba yang diamati, yaitu dari Tanjung Magkalihat ke Pulau Miang, kami mengusulkan untuk memperpanjang Kawasan Konservasi Laut Berau ke daerah Selatan dan termasuk Semenanjung Mangkalihat sampai Pulau Miang atau Bontang dengan batas pesisir hingga kedalaman 500m. Daerah ini harus memiliki perhatian khusus dalam hal penegakan hukum teknik memancing yang merusak dan tidak berkelanjutan, yaitu pemboman, memancing dengan racun, trawl. Berpatroli di daerah ini perlu ditingkatkan untuk mencegah teknik-teknik penangkapan ikan ilegal dan setiap upaya ilegal lanjut untuk membunuh paus. Keberadaan paus sirip dan paus bungkuk di daerah ini, memerlukan studi lebih lanjut tentang pola distribusi musiman atau sepanjang tahun. Kesadaran lokal harus secara teratur ditingkatkan dan nelayan harus difasilitasi untuk terlibat dalam praktek-praktek perikanan yang berkelanjutan dan / atau  budidaya rumput laut. Ada potensi yang baik untuk ekowisata menyaksikan lumba-lumba dan paus, yang dapat menguntungkan daerah terpencil dimana masyarakat nelayan sebagian besar miskin, seperti Pulau Miang. Pulau ini sekarang sedang diusulkan untuk dikonversi ke stock pile batu bara dan coal terminal yang akan menguras sumber daya ikan lokal melalui perusakan hutan bakau dan terumbu karang dari polusi batubara. (Laporan Teknis 2012....PDF)

 

 

IDiskusi awal dengan dinas pemerintah di Kabupaten Kutai Timur dilakukan pada bulan Mei 2013 untuk mempresentasikan hasil dan usulan kawasan lindung. Ide ini diterima dengan baik dan akan ditindaklanjuti. Sebuah laporan pengkajian lingkungan telah disampaikan kepada Departemen Lingkungan Provinsi untuk melestarikan Pulau Miang dan mencegah penyimpanan batubara di pulau ini. Diksusi awal telah dilakukan di Pemkab Kutim serta Kementerian Perikanan tentang hasil penelitian serta proposal untuk melestarikan areal dengan nilai konservasi tinggi.  RASI juga membuat laporan ke BLH propinsi tentang dampak lingkungan terhadap usulan perusahaan untuk dijadikan Pulau Miau stock pile untuk batu bara yang tentu saja akan sangat berdampak negatif untuk semua biota laut disekitar pulau.

Kembali   Berikut→

Copyright 2013 Yayasan Konservasi RASI - All Rights Reserved.